Jumat, 26 Juni 2015


Hanya ingin sedikit cerita dan berbagi pengalaman dengan tulisan. Karena ketika suatu saat nanti kita membacanya lagi akan mengingatkan pada sesuatu hal dan menjadikannya pengalaman yang tak akan terlupakan kelak.

Hari ini (25/6) masih dalam minggu masa klinik. Karena dapat shift pagi seperti biasa menunggu ada pasien datang untuk kb atau kontrol di suatu BPS di Surabaya. Ternyata pukul 11 ada ibu datang dengan keluhan kontraksi perut. Ternyata tak lama kemudian sekitar 2 jam Ibu tersebut telah melahirkan bayinya. cepat sekali kejadiannya karena ibunya sudah multigravida. Alhamdulillah ibu dan bayi baik baik saja tidak ada penyulit dan masalah. Sebenarnya yang ini bukan cerita utama, sedikit intermezzo dulu boleh ya hehe.

Jadi sekitar pukul 13.00 setelah membantu menolong persalinan ibu tadi ada 2 orang datang ke BPS dengan panik menceritakan bahwa tetangganya ada yang sudah kebrojolan bayinya sudah lahir namun ari-ari (plasenta) nya belum bisa keluar. Segera mbak Lilis (bidan magang) mempersiapkan alat-alat untuk menuju ke rumah ibu yang kebrojolan tadi. Mbak Lilis meminta aku buat menemani mengantarkan ke rumah ibu tersebut. Tak disangka jalan menuju rumahnya benar-benar sedikit rumit dengan keadaan rumahnya yang jauh dari kata layak untuk dihuni.

Sesampainya di rumah ibunya aku sangat terkejut. Ibunya sudah di dekat pintu duduk dengan berceceran darah di sekitarnya banyak sekali, ketuban mekonial dan seorang bayi laki-laki tergeletak di lantai masih terikat dengan tali pusat. Sesampainya di rumah mbak Lilis mengeluarkan alat-alat dan meminta aku untuk fokus mengurusi bayinya sedangkan mbak Lilis ibunya. Segera aku melakukan perawatan tali pusat dan menghangatkan bayinya dengan kain seadanya karena keluarganya tidak memiliki pakaian bayi. Ibu tersebut diberi suntikan oksitosin namun setelah lebih dari 30 menit plasenta masih sulit sekali dikeluarkan (retensi Plasenta) nadi ibunya begitu cepat dan bahaya apabila tidak segera ditangani karena bisa menyebabkan perdarahan dan mengancam nyawa ibunya. Aku sudah panik karena ibunya begitu pucat dan tampak lemas hampir tak sadarkan diri. Akhirnya kami merujuk ibu tersebut dengan becak menuju ke RSUD Soewandhi. Bercak darah menetes mengiringi sepanjang perjalanan ibunya menuju ke becak tersebut.

Sesampainya di rumah sakit kami menuju UGD untuk mengantarkan ibunya agar segera mendapatkan penanganan. Ternyata memang perlekatan plasentanya begitu dalam sampai ke bagian otot rahim dalam istilah medis sering disebut dengan plasenta akreta. Setelah mendapat penanganan alhamdulillah plasenta tersebut bisa lahir.

Pengalaman ini benar-benar sangat luar biasa buatku karena untuk pertamakalinya aku merasakan yang namanya merujuk pasien bahkan sudah dipanggil mbak bidan (padahal belum lulus)dan melihat secara langsung eksplorasi rahim untuk pengeluaran plasenta akreta. Jadi teringat aku masih mengenakan sarung tangan (handscoon) yang masih ada bercak darah dan mengendarai  motor udah keren banget kan wkwk maaf karena memang sudah gupuh. Alhamdulillah untuk klinik semester ini banyak sekali dapat pengalaman baru dengan berbagai macam kasus.

Semoga kedepannya ilmu dan pengalaman yang aku dapat bisa bermanfaat dan barokah untuk diri ini dan masyarakat. aamiin :)